Kota Pati, Jadilah Daerah Penghasil Padi Terbesar Di Indonesia!

Kabupaten Pati, Jadilah Daerah Penghasil Padi Terbesar Di Indonesia!

Pati Bumi Mina Tani, semboyan ini merupakan cita-cita atau idealis dari pemerintah awal Kabupaten Pati yang ingin memajukan; mensejahterakan daerah lewat hasil bumi pertanian dan perikanan.

Saya sebagai anak kelahiran Pati, ingin daerah ini menjadi penghasil padi terbesar di Indonesia. Supaya tak hanya mendengar sebutan beras Cianjur, Bogor, atau beras luar negeri.

Sawah di Pati
Sawah di Pati

Melihat luasnya sawah di Kabupaten Pati, tentu saya punya harapan itu. Namun sampai saat ini saya tidak mengerti, kenapa beras Pati tidak terlalu familiar di kota-kota besar?

Dulu waktu kecil saya bercita-cita untuk membangun kelompok tani untuk mengakomodir hasil panen para petani dan menjualnya langsung tanpa melewati tengkulak.

Mungkin dari kalian belum banyak yang tahu, kenapa petani sangat benci dengan tengkulak. Ini hanya sebatas informasi yang saya dapat saja ya.

Ketika panen raya tiba pasti stok beras akan melimpah, sedangkan tidak semua petani memiliki tempat untuk penyimpanan beras dengan waktu lama.

Jadi, mau tidak mau yang mereka lakukan setelah panen raya, segera menjualnya dan mendapatkan rupiah.

Di sinilah tengkulak atau pemodal besar bermain, mereka membeli gabah dengan harga yang murah lalu menjualnya dengan harga setinggi-tingginya.

Kalau beras mahal siapakah yang diuntungkan, petani? Bukan. Yap, siapa lagi kalau bukan tengkulak.

Sawah di Pati, indah kan?
Sawah di Pati, indah kan? Jangan, biarkan jatuh ke tengkulak ya.

Cerita inilah yang membuat saya termotivasi untuk memperbaiki proses itu. Saya ingin mengumpulkan para Pak Tani ini, yang memang rata-rata lansia. Untuk membuat kelompok tani dari mulai hasil panen, proses dari gabah menjadi beras, hingga proses pemasaran bisa kita lakukan sendiri. Tentu ini pasti akan menambah pundi-pundi rupiah mereka.

Terkadang ketika saya mudik, saya merasa “Kok di sini pemudanya jarang ya”. Ternyata kebanyakan dari mereka sejak lulus setara SMA. Mulai meninggalkan desa ini dan pergi ke kota besar untuk sekedar kuliah dan kerja (termasuk saya). Apakah mereka bakal pulang? Pulang kok kalau lebaran atau yang masih di daerah Semarang bisalah sebulan sekali.

Kalau nggak ada Pak Tani, masa kucing yang di sawah
Kalau nggak ada Pak Tani, masa kucing yang di sawah

Lalu, siapakah penerus Pak Tani selanjutnya? Akannya tokoh Pak Tani dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia sekolah dasar akan hilang?

Walaupun saya bukan terlahir dari keluarga petani, kadang saya merasa miris melihat kondisi ini.

Sedangkan setiap hari kita butuh makan, kita butuh beras. Artikel ini saya buat bukan untuk menjatuhkan siapapun, artikel ini saya buat untuk memotivasi diri saya sendiri.

Baca Juga : First Impression Balikpapan! Kota Indah dengan Sejuta Semangat

Sebagai pemuda sudah saatnya saya berguna untuk masyarakat, bukan hanya sekedar kerja di kantor dengan ruangan ber-AC tanpa memikirkan Pak Tani yang susah payah menanam makanan pokok kita. Semoga impian saya bisa segera terwujud demi Pak Tani

Ini hanya dari sisi saya, jika kalian merasa tulisan saya ada yang kurang mohon diberikan saran di kolom komentar 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *