Desa Wisata Tanon

Mengintip Kekayaan Budaya di Desa Wisata Tanon Semarang!

Kali ini saya akan mengintip sebuah Dusun di Kaki Gunung Telomoyo, yaitu Desa Wisata Tanon. Bila melihat lokasinya yang berada di kaki gunung, sekilas terlihat bahwa desa ini mempunyai keunggulan dari wisata alamnya, namun hal tersebut justru hanya secuil dari apa yang bisa disajikan oleh warga Desa Wisata Tanon.

Kekayaan alam, budaya, dan produktivitas dari masyarakat Desa Tanon membuat Tanon sebagai salah satu Kampung Berseri Astra (KBA). Sesuai dengan pilar-pilar Corporate Social Responsibility, Desa Tanon memiliki kualitas dengan industri kreatif masyarakatnya melalui pariwisata ditambah lingkungan hidup yang asri.

Sejak menjadi KBA 2 tahun silam, Desa Tanon semakin melangkah maju dengan budayanya dan terus berdatangan wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

“Desa Wisata Tanon adalah desa wisata satu-satunya di Indonesia dengan branding Desa Menari, sebuah dusun kecil yang terdiri dari satu keluarga besar yang secara turun-temurun adalah pelestari Budaya,” jelas Bang Yoss (Tokoh dan Pelaku Pariwisata, Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Tengah).

Bang Yoss ini hanya satu dari sekian banyak orang-orang yang memberikan respon positif terhadap apa yang disajikan dan dipertahankan oleh penduduk Desa Tanon.

Baca Juga : Cara Menuju Pulau Togean, Salah Satu Surganya Indonesia!

Perjalanan Desa Wisata Tanon

Tahun 2016 menjadi awal dari perjalanan Desa Tanon sebagai objek pariwisata budaya. Mari kita melirik ‘Festival Lereng Telomoyo’ pada 2 tahun silam, pada festival ini, Tanon berhasil memperlihatkan keunggulannya dalam tari-menari, yaitu melalui kekayaan khas Desa Tanon, yaitu Tari Topeng Ayu dan Tari Kuda Debog.

Desa Wisata Tanon
Desa Wisata Tanon

Sejak zaman dahulu, Tari Topeng Ayu merupakan ciri khas dari Dusun Tanon. Tarian ini merupakan pengembangan dari Tari Topeng Ireng yang menceritakan mengenai perjuangan melawan penjajah.

Melalui makna dari Tari Topeng Ayu itu sendiri, kita bisa  membayangkan konsep perlawanan melawan penjajah yang diwujudkan dalam gerakan-gerakan yang dinamis, ditambah lagi para penari yang menggunakan topeng.

Wajar saja bahwa tarian ini merupakan hal yang dicari-cari oleh wisatawan, bukan karena penasaran dengan wajah yang berada dibalik topeng, tapi karena gerakan yang lihai ditambah dengan ekspresi dari masing-masing topeng yang unik.

Desa Wisata Tanon
Desa Wisata Tanon (Tari Kuda Debog)

Selain Tari Topeng Ayu, terdapat juga Tari Kuda Debog, sebuah perkembangan dari Tari Kuda Lumping yang memang merupakan ciri khas dari tarian peperangan di pulau Jawa. Apalagi, di Dusun Tanon, wisatawan akan disuguhkan dengan kelihaian anak-anak yang memerankan Tari Kuda Debog.

Melalui gerakan yang diperankan oleh anak kecil, wisatawan dapat melihat sisi lain dari tarian Kuda Debog yang biasanya melambangkan sebuah kejantanan dari pasukan berkuda kerajaan sebelum berperang menjadi kelincahan anak kecil dalam melompat-lompat kecil seperti kuda.

Selain Tari-tarian Ada Juga Dolanan di Desa Wisata Tanon

Desa Wisata Tanon
Desa Wisata Tanon

Tidak hanya menyajikan tarian-tariannya, Dusun Tanon menjadi salah satu pelopor dolanan atau permainan tradisional. Di saat anak-anak di era modern ini tengah melupakan permainan Tradisional, justru di Desa ini, anak-anak sangat gemar bermain permainan tradisional.

Mungkin bila ada lomba permainan tradisional se-pulau Jawa, anak-anak Tanon lah yang bisa menjadi juara. Anak-anak Desa Tanon gemar sekali bermain permainan seperti gobak sodor, egrang, engklek, estafet balok, bakiak, dan pipa bocor.

Kegemaran mereka kini pun dijadikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan di Tanon, apalagi para wisatawan juga diajak untuk ikut bermain bersama.

Baca Juga : “Kacang Sembunyi May Lov” Potensi Besar Penggerak Ekonomi Kota Banjarbaru!

Memang sudah menjadi jati diri kita, bangsa Indonesia dengan keragaman Budayanya. Desa Tanon berhasil menjadi salah satu dari orang-orang yang memahami apa kekayaan yang kita dapat hasilkan melalui budaya. Jadilah orang Indonesia yang mengenal budaya, maka dunia akan mengenal kita.

 

 

Tabik,

Artha

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *