kumpulan novel

5 Novel Terbaik Balai Pustaka, Ceritanya Tak Lekang oleh Waktu

Membaca adalah jendela dunia. Dalam tiap periode selalu saja hadir buku-buku berkualitas yang baik untuk meningkatkan pengetahuan seseorang.

Namun, tak ada salahnya sejenak menengok ke belakang dan mengingat kembali beberapa karya sastra yang pernah dibuat sastrawan handal Indonesia di masa lampau. Mengenai hal ini, literatur dalam negeri patut berterima kasih pada Balai Pustaka yang berperan penting dalam penerbitan sastra-sastra klasik.

Berkat proses distribusi yang baik, jadilah kisah dalam novel-novel berikut masih bisa dikenang sampai sekarang. Nah, berikut 5 novel rilisan Balai Pustaka yang tak pernah lekang oleh usia.

Sitti Nurbaya – Marah Roesli (1922)

Novel karya Marah Roesli ini sangat populer sampai era modern seperti saat ini. Judul resminya adalah Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai dan diproduksi pada tahun 1922.

Plotnya mengisahkan percintaan Sitti Nurbaya dengan Samsoelbahri yang harus dihadang oleh perjodohan dengan pemuka masyarakat bernama Datuk Meringgih.

Cerita dua sejoli itu sering dibanding-bandingkan dengan kisah serupa, macam Romeo-Juliet atau Sam Pek Eng Tay.

Sengsara Membawa Nikmat – Tulis Sutan Sati (1929)

Novel ini ditulus dengan latar belakang budaya Minangkabau. Lewat Sengsara Membawa Nikmat, Tulis Sutan Sati mencoba mengkritisi kehidupan yang terjadi pada masa itu, di mana banyak orang mengandalkan jasa dukun buat menyelesaikan masalah.

Tokoh utamanya bernama Midun yang berusaha keluar dan memberontak pada segala tradisi tidak masuk akal yang terjadi di zaman tersebut.

Salah Asuhan – Abdul Muis (1928)

Abdul Muis dengan Salah Asuhan pernah ditolak oleh Balai Pustaka buat diterbitkan. Alasannya, cerita di dalam novel tersebut memungkinkan adanya pesan pembangkangan terhadap pemerintahan kolonial.

Namun, akhirnya masterpiece pria asli Minangkabau itu berhasil dirilis pada tahun 1928. Novel ini mengisahkan seorang pria bernama Hanafi yang jatuh cinta sama gadis Perancis-Minangkabau bernama Corrie.

Namun, perbedaan ras bikin keduanya sulit bersatu dan pada akhirnya harus menerima kenyataan pahit.

Azab dan Sengsara – Merari Siregar (1920)

Novel ini secara umum telah diakui sebagai novel modern pertama di Indonesia. Azab dan Sengsara karya Merari Siregar ini bercerita tentang dua sejoli, Amurrudin dan Mariamin, yang tak bisa bersatu akibat status sosial.

Merari bercerita dengan gamblang tradisi di tanah Batak di mana pemuda setempat selalu mengalami kesulitan untuk membangun keluarga impian.

Atheis – Achdiat K. Miharja (1949)

Ketuhanan dan sosial, dua tema tersebut jadi poin penting saat membaca novel Atheis karya Achdiat K. Miharja ini. Plotnya bercerita tentang tokoh bernama Hasan yang meragukan agama setelah berkenalan dengan penganut Marxisme – Leninisme dan penulis yang menganut nihilisme.

Pernah terjadi kontroversi setelah dirilis, tapi pada akhirnya Atheis tetap bisa kita nikmati sampai sekarang.

Baca Juga : Jadilah “Generasi Langit Biru” Untuk Masa Depan Lebih Baik

So, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai karya penulisnya. Setuju?

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *